Catatan Mudik, Surga ... Kau Ku peluk

Memeluk SurgaAkhirnya, waktu yang ditunggu telah tiba. Penantian panjang selama setahun karena menekuni pekerjaan, mesti terhenti sebab kala rindu melanda apapun halangannya harus dilawan. Mudik menjadi agenda rutin saban tahun. “Saya mesti mudik”, tekad kuat menggelora dalam dada. 

Kerinduan mencium tangan ibu dan memeluknya harus segera diwujudkan. Sedang bapak hanya bisa saya kirimkan bingkisan do’a - do’a selepas sholat atau hendak membaca al-Qur’an. Setelah Desember 2013 terbaring pasrah di alam kubur. 

Saya juga tidak mau dikatakan anak durhaka. Seperti yang dialami Malin Kundang. Karena terlalu betah merantau demi meraup rezeki hingga melupakan wajah sang Ibu, terkutuk menjadi batu. Na’udzubillah mindzalik.

Kerinduan saya tak sebatas orang tua, tapi juga kakak, keponakan juga guru-guru semasa sekolah di Banten dulu. Saya juga rindu bersilaturahmi dengan encang dan encing. Dalam ranah betawi, saya biasanya memanggil sebutan “encang” kepada kakak dari bapak/ibu saya dan sebutan “encing” kepada adik dari bapak/ibu saya (tidak dibedakan berdasarkan gender). Kalau mau menganalogikan ya seperti panggilan bu/pak-de atau bu/pak-le yang pemanggilannya hanya dibedakan berdasarkan siapa yang lebih tua/lebih muda dari orang tua kita.

Kerinduan itu terwujud. Setelah sebelumnya saya mampir di rumah mertua di Pati, Jawa Tengah. Saya pun bergegas mengepak barang menuju Tangerang, Banten. Butuh waktu 12 hingga 13 jam untuk sampai rumah. Sangat melelahkan duduk berlam-lama di dalam bus. Namun demi berjumpa sang Ibu saya rela berpeluh-peluh keringat. Yang penting Surga dapat dipeluk.

Ternyata benar kata pemerintah, Tol Cipali (Cikopo Palimanan) yang merupakan terpanjang se-Indonesia memberikan kenyamanan saat melewatinya. Bahkan bisa memangkas jarak jempuh menjadi lebih cepat tiba. jika tahun-tahun sebelumnya membutuhkan waktu 15 jam sekarang cukup 12/13 jam saja untuk sampai rumah. Buktinya berangkat setengah lima sore tiba di rumah setengah lima subuh. Hemat bukan. 

Setengah lima subuh tiba di rumah. Saya cium bolak balik tangan ibu. Mencium dan memeluknya. Meski raga ibu hanya bisa terbaring sebab kaki tak mampu berdiri. Kedua tangan Ibu membelai kedua pipi saya dengan mata berkaca-kaca sebagai tanda senang karena anak bungsunya sudah di depan mata.

Ah saya sudah tak sabar melawan nyamuk-nyamuk yang suka menggigit kulit saat Ibu tertidur lelap. Tak akan saya biarkan mereka mengganggunya. Sebab inilah surge yang selama ini kunanti. Biarkan ku memeluknya.

0 Response to "Catatan Mudik, Surga ... Kau Ku peluk"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef