Senja di Kaliurang

Hawa sejuk menyelimuti tubuh kami. Saat sang sopir membuka jendela kaca Xenia yang kami sewa. Hembusan nafasku, nafasnya, nafas teman-teman mengisyaratkan bila kami ingin lebih lama bersama-sama. Mengunjungi satu situs wisata ke situs wisata lain. Namun waktu mesti berkata lain. Kami HARUS berpisah dengan sisa waktu kurang dari satu setengah jam. 

Sang sopir terus menginjak pedal gas sebab jalan semakin menanjak. Kami terpesona keindahan dan kesejukan alam nusantara ciptaan Sang Khaliq. Sepanjang jalan ku panjatkan puji-pujian kepada Sang Pemilik Hati atas anugerahnya. Setelah memberikan ku perasaan ingin memiliki seutuhnya kehidupan ini. Itulah sifat yang dimiliki manusia, tak cukup hanya memiliki satu tapi lebih. SERAKAH. 

Kami terus berpacu bersama waktu senja itu. Ku lepas jaket agar kulitku bisa meresapi gigitan dingin yang mulai memenuhi sekujur tubuh. Aduhai meresap sekali. Kebersamaan kami semakin terasa dalam bingkai senda gurau penuh tawa dan canda. Hingga tiba di pelataran Kaliurang.

Segera ku raih android sahabat Singkawang. Memotretnya dari berbagai angel. Kadang bagus kadang tidak. Tapi kebanyakan, ehm…baguslah untuk kelas pemula. Hehehe. Begitu juga sahabat Sambas, aku senang betul membantu memotretkannya. Sekaligus mengasah kemampuan memotret. 

Disela-sela pemotretan ku lihat ada satu keelokan yang Tuhan suguhkan. Keelokan yang tidak bisa orang lain rasa. Saat ku lihat sekeliling, para pengunjung Kaliurang biasa-biasa saja. Mereka asyik masyuk berpotret bersama keluarga dan sahabat. Sementara aku, aku benar-benar takjub. Cantik betul. Ah, aku terpesona. Benar-benar terpesona. 

Tunggu dulu. “Hai…” sergahku. Tiba-tiba Ia memainkan matanya yang jeli. Bulu mata yang lentik. Aku semakin tak enak hati. Jujur, ini pertama kalinya ku bisa menyelaminya. “Ya Allah …” gumamku dalam penuh kesyukuran. Kecantikanya hanya bisa ditandingi Zulaikha pemuja sejati Sang Nabi, Yusuf ‘Alaihissalam

Itulah kecantikan Kaliurang. Meski pernah dihujani debu Merapi, ia kembali molek. Menghiasi diri secara perlahan bersama masyakat yang serba istimewa, Yogyakarta. Senja di Kaliurang, membuatku sadar, bahwa aku bukanlah apa-apa. Aku hanya hembusan debu yang bisa hilang kapan saja. Kecil laksana butiran-butiran biji Jarah.



Perpisahan pun tak terelakkan. Kami berpisah dengan sahabat Singkawang dan sahabat Sambas di bibir pintu masuk bandara Adi Sucipto. Selamat jalan sahabat. Sukses dunia akhirat menyertai kalian. Amiin.

0 Response to "Senja di Kaliurang"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef