Mengarifi Makna Diam

g3enterprises.com
Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Allah SWT pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikir positif. Sebab Allah SWT hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Suatu hari seorang sahabat dicela, dihina dalam sebuah pesan singkat. Dia dianggap sebagai orang yang akan menjadi penghalang bagi sukses tidaknya acara. Segala ungkapan dikirimkan kepadanya. Namun ia hanya membalasnya dengan “Ya pak”, Baik bu”. Atau “Terimakasih”. Pernah pula menjawab dengan kata “Amiin”. Tergantung redaksinya seperti apa, maka jawabannya disesuaikan saja. 

Tak banyak memang yang dijawab. Namun baginya, jawaban singkat sudah cukup. Sebab, jika terlalu panjang justru akan menghadirkan multi tafsir. Bukan akan meredakan masalah justru akan semakin parah.

Perselisihan pun berakhir. Setelah sahabat saya hadir sesuai dengan yang diinginkan panitia acara. Tak ada kata-kata segencar seperti dalam pesan singkat sebelum sahabat saya hadir. Semua nampak hening. Wajah-wajah pencela diawal cerita tersipu malu.

Sahabat, inilah yang dilakukan Rasulullah SAW. Dalam dakwahnya, tak sedikitpun rasulullah SAW menampakkan kekesalan. Sekalipun beliau dihina, dicaci, dimaki, dilempari tai Unta, bahkan sampai hendak dibunuh. 

Hari ini, kita butuh membangun semangat mental tahan banting. Perkembangan zaman menuntut kesigapan menghadapi segala perubahan. Untuk itu banyak diam bukan berarti tidak memiliki keberanian melawan. Hanya saja, lebih baik pikirkan yang jauh lebih penting dari pada mengurusi hal-hal remeh temeh.

1 Response to "Mengarifi Makna Diam"

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef