Catatan Akhir Lima Hari di Malioboro

Sumbawa, Sumbawa Barat, Singkawang, Sambas
Rumah Separuh – Selamat pagi. Semoga kita sehat selalu dan bisa mengarungi hari ini dengan kegemilangan. Amiiin.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu kata para Pujangga. Begitu juga dengan siapa saja yang ingin memiliki banyak sahabat. Apalagi sekarang banyak media yang mendukung. Sebut saja facebook, twiter, blog, website. 

Hal ini bisa dikatakan sejalan dengan firman Allah SWT, bahwa dengan diciptakannya manusia dengan berbagai suku, ras, dan agama agar bisa saling kenal mengenal. Dengan saling mengenal maka akan melahirkan generasi-generasi muda. Maksudnya menikah. 

Terlepas dari itu, ternyata P2TK Dikdas PK-LK menghelat acara dengan mengangkat tema “Pembinaan Karir Tenaga Perpustakaan Sekolah”. Bertempat di hotel Inna Garuda beralamat di jalan Malioboro Yogyakarta. Peserta terdiri dari sekolah luar biasa (SLB) di seluruh tanah air. Dari Sabang sampai Merauke. 
Menunggu magrib di Malioboro

Tujuan utamanya jelas untuk meningkatkan pengelolaan perpustakaan. Namun ada tujuan lain yang bisa saya petik yaitu agar saling kenal mengenal dengan sesama peserta yang berasal dari berbagai suku. Sungguh senang sekali tetkala bertemu dengan sahabat Istimewa dari Aceh, Maluku, Riau, Papua, Pontianak, Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya. 

Belum lagi dialek bahasa beraneka ragam, buat kita yang baru mendengar terkesan lucu. Begitu juga dengan sahabat lain, akan menganggap sama bila mendengar dialek bahasa lain. Namun itu tidak mengecilkan semangat untuk mengenal lebih dalam sahabat tanah air. Semua bercampur baur manakala keberanian memulai perbincangan dimulai. 

Ya, saya juga mengenal sahabat Singkawang, Sambas, dan Sumbawa Besar yang mengantar pertemuan itu menjadi moment menguatkan tali silaturahmi. Dimana diakhir acara kami sepakat untuk mengunjungi beberapi situs dan destinasi wisata yang dimiliki Yogyakarta. Sebut saja Candi Prambanan, Taman Nasional Kaliurang, dan Kraton Ratu Boko.

Kehangatan Peserta Diklat

Di tiga tempat wisata inilah saya kerahkan hobinya saya dalam hal memotret. Meski hasilnya tidak terlalu bagus tapi adrenalin saya meningkat kalau diminta memotret. Hehehe. Ya ini tantangan buat saya untuk menghasilkan hasil jepretan terbaik. 

Sahabat Singkawang, Novi Wulandari, sory ya kalau hasil jepretan saya tidak sesuai ekspektasi anda. Sahabat Sambas, Herianto, senang berkenalan dengan anda. “Kok saya gak dikasih batu akik? Kenapa pak Salim saja yang dikasih?” Sahabat Sumbawa Besar, Pak Salim, kangen rasanya bisa jalan bareng lagi di Malioboro. Apalagi kalau melihat banci lagi konser dipunggung jalan Malioboro, pak Salim bisa saja bikin saya lari tungganglanggang. Hahaha.

Akrab meski beda asal
Pak Basyir, Sulawesi Selatan, ketua kelas A, bapak salah bawa buku catatan. Bu Rian, Sumedang, ingat “TAHU” ingat anda. Maniss. Sekedar berharap, semoga Allah mempertemukan kita lagi. Dimanapun dan dengan kondisi apapun. Tentunya dalam keadaan sehat wal afiat. Amiin.

1 Response to "Catatan Akhir Lima Hari di Malioboro"

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef