Merenungi Hari Pendidikan Nasional

Merenungi Hari Pendidikan Nasional

Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di blog rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Tuhan pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikiran positif. Sebab Tuhan hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Memang sudah berlalu cerita ini. Tapi penting kita renungi. Ceritanya begini. Kamis (2/5) saya mengikuti apel upacara bendera di depan Kantor Bupati Sumbawa Barat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Dengan mengenakan seragam PGRI, saya seperti sudah menjadi guru sebenarnya. Padahal masih belum maksimal memangku tugas sebagai seorang pendidik. Tugas berat laksana para khalifah mengubah paradigma ummat jahiliyah menjadi penuh peradaban. Walaupun hingga kini peninggalan atau saya sebut mirip-mirip jahiliyah Arab tempo dulu, kerap terjadi di tengah-tengah kita. Pembunuhan anak kepada orang tua, seorang ibu membuang anaknya di jalanan, pencurian, pelacuran, perjudian, dan sebagainya. Itu saja sudah bisa mewakili watak masyarakat zaman sekarang.

Memang tidak dapat dipukul rata, tapi kasus seperti itu memang terjadi hari ini. Maka tugas berat ini tidak hanya dibebankan kepada pendidikan teruatama guru. Namun juga semua elemen pendidikan (orang tua, lingkungan, kepala sekolah, pemerintah dan pemangku jabatan pendidikan) harus bertanggung jawab memajukan serta merubah dan meminimalisir tingkah laku sesama agar lebih beradab. Itu TUGAS BERAT.

Lalu apakah ada pengaruhnya dengan perubahan kurikulum setiap tahun ajaran pendidikan berganti? Sedikit banyak ada. Tapi itu semua bergantung pola pendidikan di rumah (orang tua). Bila orang tua sudah membiarkan pendidikan anak dan tidak memperdulikan terhadap kemajuan prestasi anak, barangkali inilah yang menjadi penyebab utama kembang kempis pendidikan kita.

Menurut berbagai sumber saya baca, bahwa rating pendidikan kita tertinggal dengan Negara-negara ASEAN sekalipun. Padahal dahulu kita mengekspor guru ke Malaysia. Justru sekarang pendidikan kita dikangkangi Malaysia. Mereka maju pesat baik ekonomi, pendidikan dan teknologi. Sungguh ironi, Cara kita dalam memajukan pendidikan dinilai gagal. Namun demikian sejumlah pelajar mampu menyabet gelar dalam berbagai olimpiade pendidikan dengan mengalahkan Negara-negara maju. Sungguh sebuah prestasi membanggakan ditengah keterpurukan pendidikan nasional.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional sudah sepantasnya menjadi ajang kebangkitan bangsa dan Negara. Meningkatkan semangat dan memberikan sinergi positif bagi generasi baru yang akan melanjutkan estapet pendidikanyang lebih gemilang. Semua tergantung kita. Bila maju atau justru semakin mundur maka saya mohon ijin untuk memberi saran, ayo bangkit jangan patah semangat. Don’t give up.

0 Response to "Merenungi Hari Pendidikan Nasional"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef