Meneladani Dakwah Blusukan Ustadz Jefri Al-Buchory

Mengenang Dakwah Blusukan Ust. Jefry Al-Bukhori
Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di blog rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Tuhan pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikiran positif. Sebab Tuhan hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Masih ingat pada Jum’at pagi, kira-kira jam dua, sepeda motor bercece besar melesat bagai kilat. Cepat sekali. Agus Idwar dan kawan-kawan yang baru saja minum kopi bersama si pengendara motor gede (moge) tak mampu mengejar kecepatannya. Dalam hitungan menit tersiar kabar bila si pengendara moge tersebut wafat setelah menabrak pohon pinang. Lokasi yang tidak jauh dengan rumah si pengendara moge. Setelah tersiar kabar duka ternyata Ustadz Jefri Al-Buchory yang biasa disapa Uje adalah pengendara moge 9motor gede) tersebut. Saya tersentak setelah mendengar cerita Hana (kepanakan) yang malam itu bermalam di rumah bersama mbanya Ida. Paginya saya menunggui berita wafatnya Uje diberbagai stasiun televisi.

Ustadz Jefri dikenal dengan sebutan ustadz gaul. Karena bahasa dan gaya penyampaiannya sangat anak muda, gaul sekali. Sehingga para pendengar mudah memahami apa yang disampaikan ustadz Uje. Sasaran utama dakwah Ustadz Jefri Al-Buchory adalah para pemuda yang sedang galau, alay dan kepo. Bermasalah dalam pencarian jati diri, bermasalah dengan orang tua dan bermasalah dengan minuman keras dan narkoba. Tidak salah kemudian Ustadz Jefri Al-Buchory memiliki hajat mendirikan pesantren dan rehabilitasi bagi yang ketergantungan narkoba. Meski sekarang setelah wafatnya Ustadz Jefri Al-Buchory, pembangunan pesantren tersebut terbengkalai. Karena terkendala dengan masalah pendanaan. Mari kita do’akan semoga pembangunannya terus berlanjut hingga selesai. Amiin.

Dalam berbagai kesempatan, almarhum Uje menggunakan metode dakwah seperti gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) yaitu metode blusukan. Masuk gang–gang sempit dengan tunggangan moge setia. Dengan begitu akan memberikan kesan anggun dan tidak angkuh. Ketika dakwah dilaksanakan dengan cara blusukan, setiap lapisan masyarakat lebih mudah tersentuh. Tentu dengan bahasa dan bobot materi yang ringan serta mudah diserap sehingga dapat diaplikasian di kehidupan sehari-hari.

Meski ustadz Jefri Al-Buchory telah wafat, namanya santer terdengar sebagai pribadi yang sangat pemurah. Malam terakhir sebelum kecelakaan terjadi, beliau sempat bersedekah di sebuah warung kopi. Beliau juga sering membeli barang dari para pedagang meski tidak tahu untuk apa barang tersebut. “Yang penting si pedagang dapat membawa uang untuk anak dan istri,” tutur Pipik istri almarhumah Ustadz Jefri Al-Buchory dalam salah satu kesempatan. Selamat jalan Uje. Semoga amal ibdahamu diterima Yang Maha Kuasa. Amiin.

0 Response to "Meneladani Dakwah Blusukan Ustadz Jefri Al-Buchory "

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef