Memaknai Lagu Hymne Guru


Memaknai Lagu Hymne Guru
Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di blog rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Tuhan pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikiran positif. Sebab Tuhan hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Memakai seragam PGRI pikiran saya melayang jauh saat duduk di bangku sekolah dasar. Setiap memperingati hari pendidikan nasional (hardiknas), saya dengan bangga melihat bapak dan ibu guru mengenakan seragam tersebut. Senyumnya ikhlas dan semua ilmu yang dikerahkan untuk kami terasa sekali manfaatnya hingga sekarang. Meski terkadang kami sering membuat jengkel bapak dan ibu guru. Dengan berbagai tingkah polah kami, barangkali menurut pandangan beliau terlalu berlebihan. Itu sebuah anggapan wajar. Mereka takut apabila kami kelak saat dewasa, menjadi manusia tak berguna. Manusia yang tak kenal budi pekerti. Manusia tak bermoral. Manusia yang jauh dari nilai-nilai agama. Padahal berbagai ilmu moral, agama (al-Qur’an dan hadits) telah lama dihunikan pada kami oleh bapak dan ibu guru. Itu ketakutan yang dirasakan oleh semua guru kini.

Saya juga membayangkan bagaimana nikmatnya mencium tangan beliau setiap pagi saat tiba di sekolah dan siang ketika bel pulang berbunyi. “Assalamu’alaikum …” sapa kami dengan membawa semangat baru yang kami bungkus dalam senyum merekah. Menyebarkannya kepada seantero kelas, bahwa kami siap menerima ilmu dari bapak dan ibu guru. “Bila kami sulit memahaminya, mohon ajarkan kami lebih keras lagi. Jangan tinggalkan kami dalam ketidakfahaman.” Itu harapan-harapan kami yang setiap pagi kami bawa dari rumah dengan iringan do’a orang tua agar kami menjadi anak berguna dan berhasil.

Saat perpisahan kelas enam. Ketika itu dilaksanakan di Kebun Raya Bogor, saya dan sepupu Bunyamin memakai pakaian serba baru. Begitu juga dengan Erwin, Adam, Edi, Siti, Nur, Fitri, Najat, dll. Semua berpakaian baru. Hanya sepatu saja yang tidak. Saya dan Bunyamin berdiri berdampingan dengan rambut khas sama-sama pirang. Menyanyikan lagu hymne guru dengan penuh makna. Air mata jatuh satu persatu. Membayangkan atas jasa beliau yang tiada pamrih. Tenaga, waktu dan pikirannya tercurahkan hanya untuk kesuksessan kami. Mendengarkan lagu hymne guru oleh paduan suara upacara bendera kemarin, mengisyaratkan kepada saya agar tetap semangat dalam mengajar. Mudah-mudahan. Insya Allah.

1 Response to "Memaknai Lagu Hymne Guru"

  1. Kepada Yth.
    Bapak Ali Nurdin

    Dengan Hormat,

    Perkenalkan, nama saya Zenia dari Selasar. Berikut adalah profile saya di Selasar: https://www.selasar.com/profile/38124/Zenia-Zn

    Mohon izinkan saya memperkenalkan Selasar. Selasar adalah sebuah platform berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan. Di Selasar, pengguna dapat memberikan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan menulis jurnal. Untuk informasi yang lebih lengkap, Anda dapat melihatnya di link ini: https://www.selasar.com/site/about

    Saya telah membaca tulisan Anda di blog http://www.rumahseparuh.com/2013/10/memaknai-lagu-hymne-guru.html dan menganggap tulisan Anda sangat inspiratif.

    Terkait hal tersebut, bolehkah kiranya tulisan Anda di http://www.rumahseparuh.com/2013/10/memaknai-lagu-hymne-guru.html dapat kami bantu muat, promosikan, dan publikasikan ulang konten yang ada di dalamnya pada forum Q&A (Questions & Answers) via selasar.com, mengingat cara penyampaian dan substansi yang sangat baik dalam tulisan tersebut.

    Kami akan bantu sebarkan tulisan tersebut via jejaring digital yang kami miliki. Harapannya, ketika tulisan tersebut mendapatkan exposure yang lebih luas, semakin banyak orang yang akan terinspirasi dan mengetahui ide serta gagasan Anda.

    Terima kasih. Mohon konfirmasi dan kabar baik dari Anda.

    Salam,
    Zenia

    ReplyDelete

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef