Elegi Perubahan Kurikulum Pendidikan

Stop Merubah Kurikulum

Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di blog rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Tuhan pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikiran positif. Sebab Tuhan hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.
Dalam ilmu Biologi dikenal teori evolusi. Ibarat kepompong Pemerintah melalui departemen pendidikan dan kebudayaan akan menggunakan kurikulum baru. Secara resmi Pertanggal 15 Juli 2013. Penggunaan kurikulum ini tidak diberlakukan di semua kelas. Hanya di kelas satu dan empat SD, kelas tujuh pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan kelas sepuluh tingkat menengah atas (SMA).

Memang perubahan kurikulum ini tidak bisa dielakkan. Meski kurikulum telah berganti sampai sebelas kali, nasib pendidikan belum menunjukkan perubahan secara signifikan. Terhitung sejak Indonesia merdeka, setidaknya sudah terjadi perubahan kurikulum sebanyak sebelas kali. Antara lain: Tahun 1947 disebut Rencana Pelajaran : Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai, Tahun 1964 Rencana Pendidikan Dasar, Tahun 1968 Kurikulum Sekolah Dasar, tahun 1974 Kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), Tahun 1975 Kurikulum Sekolah Dasar, Tahun 1984 : Desain Kurikulum 1984, Tahun 1994 : Desain Kurikulum 1994, Tahun 1997: Revisi Kurikulum 1994, Tahun 2004 : Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Tahun 2006: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Tahun 2013 : Kurikulum 2013.

Perubahan kurikulum ini juga sebagai jawaban atas tuntutan masyarakat yang menginginkan perubahan. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pun mengamanatkan untuk pertama, menciptakan manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; kedua, manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan ketiga warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Cita-cita mencerdaskan anak bangsa merupakan cita-cita yang sangat mulia dan indah. Rasanya tidak bijak manakala pergantian kurilukum ini mengundang riuh rendah para pengamat pendidikan. Bukan berarti pemerintah anti kritikan. Namun, toh sekencang dan sekritis apapun kita mendebat pemerintah pada akhirnya mau tidak mau ya manut saja.

Memasung Kreatifitas

Dalam penerapan kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) M. Nuh telah menyiapkan faktor pendukung keberlangsungan dan keberhasilan kurikulum ini. Pertama, buku referensi untuk pegangan guru dan murid yang berbeda isi dan bobotnya. Kedua, menyiapkan program pelatihan guru secara bertahap dan berkelanjutan.

Persiapan ini bisa dianggap sebuah langkah tepat. Kemendikbud tidak ingin dicap sebagai pengambil kebijakan yang asal-asalan. Langkah ini dirangkai untuk menjebatani orang tua siswa dan sekolah. Selama ini, orang tua siswa merasa keberatan. Karena setiap kali kenaikan kelas siswa diharuskan membeli buku baru. Harganya sangat murah yakni Rp. 7.300. Bila dibandingkan pembelian buku pelajaran tahun sebelumnya, harga buku mengernyitkan dahi.

Terkait penyediaan buku untuk siswa dan guru, hal ini mengindikasikan telah terjadi pemasungan kreatifitas bagi guru. Bila dibandingkan kurikulum KTSP, peran guru lebih intensif dan kreatif. Karena sekolah diberi kewenangan (otonomi) seleluasa mungkin untuk mengatur dan menentukan metode yang tepat dalam proses belajara mengajar. Guru dapat mengaplikasikan dan memasukkan budaya daerah serta mensimulasikannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sedang berkembang. Berbeda dengan kurikulum 2013, segalanya ditentukan oleh Kemendikbud. Para guru tinggal menerapkan tanpa berpikir mau menggunakan metode belajar seperti apa, standar kompetensinya bagaimana.

Harapan Baru

Kisah Perubahan kurikulum menjadi harapan baru bagian sejarah pendidikan kita. Mau tidak mau perubahan akan terus berlangsung. Apa pun nama kurikulumnya. Metode belajar seperti apa, buku yang digunakan bagaimana, mahal atau murah, merupakan sederet kisah panjang dinamika naik turun pencarian jati diri (standarisasi pendidikan) hingga kini yang tak kunjung berhasil ditemukan. Terlepas dari plus minus kurikulum tersebut.

Mari berharap, semoga perubahan kurikulum kali ini untuk yang terakhir. Hasil kejelian kemendikbud dan jajarannya dalam menemukan formulasi kurikulum yang tepat. Standarisasi nilai pendidikan yang selama ini diharap dan diidam-idamkan segera ditemukan. Pergantian kurikulum satu dan lainnya tidak lagi menjadi ajang coba-coba. Apa lagi ada kesan ganti menteri ganti kurikulum. Ini yang tidak diinginkan. Politik masuk ranah pendidikan.

Tak pelak, guru sebagai ujung tombak pengimplementasian kurikulum baru ini menjadi ajang pertaruhan berhasil tidaknya kurikulum ini. Apalagi setelah mengikuti pelatihan yang diberikan pemerintah. Hal ini harus benar-benar dilaksanakan secara tuntas. Agar elegi perubahan kurikulum pendidikan kita cukup sampai di sini. Titik. Majulah pendidikan Indonesia.









0 Response to "Elegi Perubahan Kurikulum Pendidikan"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef