Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami


Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
Selamat pagi sahabat-sahabat. Kembali lagi kita bertemu di blog rumah separuh pada pagi yang indah dan sejuk serta kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita selalu sehat wal afiat dan sukses selalu dalam meraih impian. Apa pun impiannya, yakinlah Tuhan pasti akan mengabulkan. Entah kapan akan dikabulkan, tetap berpikiran positif. Sebab Tuhan hanya mengabulkan do’a bila hambanya berpikiran positif kepada-Nya. Wallahu ‘alam.

Seorang ibu berjalan sangat gagah. Langkah dan matanya kokoh dan tajam. “1 2 3” ia mulai menghitung dalam hati. “Lapor pembacaan teks UUD 1945 siap dilaksanakan,” ucapnya sedikit galak. “Laksanakan,” jawab sang inspektur upacara. Upacara sakral kali ini dipimpin bapak wakil Bupati. Kami biasa menyapa dengan Pak Mala. Kebetulan bapak Bupati sedang berhalangan. Namun demikian, upacara tetap berjalan hikmat. Saya sempat mau menangis. Menghayati lagu demi lagu yang menyiratkan kecintaan kepada tanah air. Sebut saja lagu “Padamu Negeri, Hymne Guru dan Terima Kasih Guru” yang dinanyikan secara serempak oleh paduan suara bentukkan panitia upacara.

Sungguh hebat para pencipta lagu tersebut. Saya pun bertanya dalam hati, sebesar apakah kecintaan para penyair lagu ini kepada Bangsa Indonesia? Sehingga dengan waktu dan pikrannya mampu menciptakan bait demi bait yang mengajak kita sebagai generasi hari ini untuk mencinta bangsa sendiri dengan kelebihan dan kekurangannya.

Coba kita renungi makna bait lagu Padamu Negeri ciptaan Kusbini.

“Padamu Negeri Kami berbakti

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami”.

Luar biasa kata demi kata yang tersusun dalam lagu ini. Lagu ini tidak hanya mengajak kita untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara. Tetapi mngajak kita berjanji berbakti demi kemajuan Negara. Apa pun bentuk pengabdiannya, Negara sangat apresiatif meski terkadang para pejabat Negara lupa akan pengabdian. Tentu saja tidak bisa diakomodir seluruhnya, namun berbuat saja demi Negara dan bangsa. Walaupun tanpa atau ada penghargaan dari Negara. Berbuat saja apa yang bisa dilakukan. Tidak mesti besar namun memerikan makna besar bagi sesama. Itu yang terpenting. Berbuat saja dulu tanpa meminta balasan.

Dan itu yang terjadi dengan para pendahulu kita. Tidak setiap pengabdian langsung mendapat apresiasi dari masyarakat. Namun terkadang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Setelah terasa manfaatnya barulah nama kita tersohor. Nama kita takkan lekang oleh waktu. Itu pun tergantung niat. Innamal a’malu binniat. Begitu Islam memberi kiasan. Wallahu ‘alam.

0 Response to "Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef