Quo Vadis Bulan Ramadhan

Puasa, Bulan Kasih Sayang
Rumah Separuh - Bulan Ramadhan merupakan bulan penyucian diri bagi umat Islam. Setelah sebelas bulan sebelumnya kita asyik masyuk dengan hiruk pikuk dunia. Mungkin saja tidak kita sadari kita berada di wilayah abu-abu (grey area). Bersenggolan dengan wilayah subhat dan barangkali dengan sengaja memasuki area tersebut. Tak pelak, gaya hidup, asupan makanan, pencarian pendapatan jadi ikut abu-abu sehingga menutupi mata hati.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan orang yang banyak melakukan dosa akan membuat hatinya ditutupi bintik-bintik hitam. Semakin hitam hati maka segala cara menjadi halal. Maka melalui rangkaian ibadah Ramadhan seperti puasa sehari penuh, I’tikaf, tadarus al-Qur’an dan sholat tarawih (ibadah vertikal) dan membayar zakat fitrah dua setengah persen (ibadah horizontal), bertujuan untuk membersihkan jiwa serta harta hingga terlahir seperti bayi yang bersih dari dosa dan noda.

Namun, realitanya tidak demikian. Puasa hanya tinggal puasa. Puasa hanya jadi ajang komoditi bisnis bagi industri hiburan. Puasa hanya sekedar di bibir, bukan di hati sebagaimana pesan agung Rasullah saw untuk memaksimalkan bulan mulia ini agar tidak lewat begitu saja. Kesempatan kita memperbaiki diri dan menata kembali pola hidup secara teratur.

Ironi Puasa

Kebanyakan dari kita, puasa hanya dianggap sebagai angin lalu. Bukan tanpa sebab, pasalnya puasa sering kali mengganggu aktifitas kerja sehari-hari. Dalih lain, jadwal makan yang seharusnya tiga kali sehari, kini hanya dua kali. Yakni, saat sahur dan berbuka puasa. Meski demikian, diawal-awal puasa rasa-rasanya kebanyakan umat Islam akan melakukan puasa walalupun hari-hari setelah itu ya biasa lagi. Makan secara diam-diam dan ikut buka puasa dikala azan magrib berkumandang. Dari pada menanggung malu di hadapan khalayak. Lebih baik diam saja. Toh Cuma Tuhan yang tahu perbuatan kita. Iya kan?

Patut kita kaji bahwa justru di bulan Ramadhan ini sikap konsumerisme semakin meningkat. Lihat saja pola makan saat menjelang berbuka. Berbagai jenis makanan diasup. Minuman ini minuman itu. Warung-warung makanan lebih padat ketimbang isi masjid atau musholla. Puncaknya seminggu sebelum Idul Fitri tiba, Mall dan toko pakaian kebanjiran pengunjung yang keranjingan mode. Sementara jiwanya meringis rindu kebesaran Ilahi disaat malam-malam ramadhan berlalu.

Lupakan soal kenaikan harga sembako yang melambung tinggi. Lupakan kenaikan harga tiket mudik yang terjual hingga seratus persen. Lupakan pula oknum pedagang ayam tiren yang seenaknya dewek (sendiri) meraup untung sebesar-besarnya tanpa memperdulikan akibatnya. Kemana hati nurani? Sudah matikah karena telah tertutupi bintik hitam yang kian menebal?

Kontrol Syahwat

Almarhum Kiyai kondang Zainuddin MZ pernah mengingatkan kita agar selalu melakukan pengendalian diri (kontrol syahwat). Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah jauh-jauh hari memperingatkan kita akan bahaya nafsu syahwat. Karena ini sebenar-benarnya peperangan. Jika terkecoh atau kalah maka siap saja menanggung akibat. Jika berhasil, maka termasuk orang beruntung.

Realita di atas menujukkan, sampai detik ini bulan Ramadhan baru sekedar rutinitas tahunan. Kemewahan duniawi semakin sulit dilawan walapun tetap dibutuhkan sesuai porsinya. Ippho Santosa seorang pengusaha muda dalam buku Keajaiban Tujuh Rezeki mengutarakan, menunda kesenangan merupakan jalan menuju kesuksessan. Semakin konsumtif semakin mendekatkan diri pada ketertinggalan. Jika sudah begini mau kemana kita dengan adanya bulan Ramadhan?

0 Response to "Quo Vadis Bulan Ramadhan"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef