Kejujuran vs Uang

Pernah di suatu hari, pemerintah melalui departemen pendidikan mengadakan pendaftaran sertifikasi bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Terutama bagi tenaga yang sudah memenuhi syarat dan kualifikasi yang telah ditentukan pemerintah. Tanpa menunggu lama, kesibukkan melanda sekolah-sekolah. Masing-masing mempersiapkan berkas yang diperlukan.

Beruntung bagi tenaga yang telah memenuhi syarat. Karena cukup di sekolah saja dalam mengurus segala keperluan. Tetapi bagi tenaga yang belum, mulai grasak grusuk. Tanpa pikir panjang, mulailah memanipulasi data. Terlepas dosa atau tidak. Yang terpenting uang dalam genggaman.

Bermula dari stempel aspal, memesan SK dadakan. Entah dari oknum yayasan atau oknum pejabat sekolah yang bersedia kongkalikong kemudaratan. Apapun dalihnya, hal ini menjadi potret buram dunia pendidikan yang kian menohok. Kepercayaan terhadap dunia pendidikan semakin menurun.

Kejujuran vs Uang

Uang sejak zaman baheula sampai detik ini merupakan dewa pemuas kebutuhan manusia. Tanpa uang perekonomian takkan berputar. Tanpa uang para pekerja enggan bekerja. Tanpa uang proyek-proyek besar takkan berjalan. Tanpa uang korupsi takkan merajalela. Musuh nomer satu bangsa kita.

Begitu pula yang terjadi pada dunia pendidikan. Dengan alasan meningkatkan kualitas pendidikan, tuntutan kenaikan gaji marak disuarakan. Untung saja pemerintah tidak menutup mata dan hatinya, sehingga tuntutan ini dikabulkan.

Lacur, setelah tuntutan dikabulkan kualitas belum juga meningkat. Hal ini dapat dilihat ketika Sekolah memberikan tugas tambahan bagi guru. Yang mengakibatkan guru jarang masuk kelas. Entah mengelola dana BOS, administrasi, surat menyurat, mengelola tabungan anak-anak, dan sebagainya.

Siswa menjadi terbengkalai dan tidak tertangani dengan tepat. Dengan demikian, siswa merasa sia-sia datang ke sekolah namun tidak mendapat asupan informasi yang seharusnya mereka dapat.

Atas nama uang pula, dibeberapa daerah yang memberikan tunjangan kerja daerah (TKD), para guru kerap menandatangani presensi yang harusnya ditulis alpa, sakit atau ijin. Sebab jika tidak, uang makan dan tunjangan akan dipotong. Padahal kita sering mengajarkan kepada siswa agar berkata jujur. Kejujuran kian tergerus oleh uang. Kejujuran hanya ada pada lisan. Bukan hati nurani yang sejatinya berkata jujur. Sementara integritas seorang guru hanya diukur dengan uang bukan nilai-nilai agung yang tertuang dalam agama.

Sekedar saran

Kita seringkali mafhum dengan kondisi seperti ini. Alibinya, tidak ada manusia yang sempurna. Namun jika dibiarkan hal ini akan terus menggurita. Dampaknya tentu saja sangat fatal terhadap keberlanjutan pendidikan di masa depan. Tidak adanya upaya yang maksimal hanya akan berakhir sia-sia.

Maka saran saya, tidak ada kata “Tidak” untuk segera membenahi pribadi-pribadi guru yang pantas digugu dan ditiru. Terutama terkait dengan mental. Jika mental lemah, permasalahan ini tidak akan terselesaikan. Plus dengan memperdalam nilai-nilai spiritual yang akan membawa pada pencerahan sikap dan perilaku.

Sebab, mengajar adalah amanah. Dan kita adalah para pembaharu (Mujaddid) generasi yang sangat menentukan. Tentu sebuah tugas yang tidak ringan. Namun yakinlah, jika kita amanah Tuhan akan mencatat sebagai kebaikan. Mudah-mudahan menjadi tabungan bila kelak kita wafat yang mempermudah perjalanan panjang di alam kubur.

Mudah-mudahan hari guru yang baru saja dihelat tanggal 25 November kemarin, menjadi tonggak awal kebangkitan guru berkualitas. Tidak lagi menjadi beban tetapi menjadi kebutuhan dalam membangun bangsa. Menjadi guru adalah kebanggaan. Karena setara dengan para Nabi dan ulama yang senantiasa menyebarkan kebaikan.

1 Response to "Kejujuran vs Uang "

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef