Batu Payung, Bukti Kuasa Ilahi

Rumah Separuh -Batu PayungRencana saya ke pantai Pink, Jero  Waru,Lombok Timur, hari Kamis (6/6), gagal total. Selain karena keponakan saya tidak jadi ikut, juga guidenya malas untuk mengantar. Menurut pengakuan guide, pantai Pink letaknya sangat jauh. Kira-kira 130 km dari Mataram. Lagi pula, pasir pantainya tidak terlalu Pink. Hanya dilihat dari kejauhan terlihat Pink. Jalannya penuh berbatuan dan terjal. Itulah alasan-alasan yang diungkapkan guide-guide saya yang malas.

Jauh memang, tapi birahi untuk menjejakkan kaki di pantai Pink terus menggelora. Saya tahu ada pantai Pink dari televisi. Pasir pantainya termasuk langka. Karena hanya bisa ditemukan di dua provinsi di Indonesia. Yaitu di Nusa tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Atas kegagalan ini saya merasa sangat kecewa. Pasalnya sudah lama saya dan istri merencakan untuk ke pantai Pink. Tapi gara-gara guide yang pemalas akhirnya saya tidak berhasil mencapainya.

Haluan pun berubah. Sobat Sir mengajak saya dan istri ke pantai Batu Payung, Lombok Tengah. Akhirnya, saya, istri, sobat Apologi dan kekasihnya menyusul. Kami sepakat bertemu di desa Sade. Sebuah desa yang masih mempertahankan budaya dan adat asli. Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, kami tiba di desa Sade. Kami juga bertemu dan sobat Ngoh dan temannya, Sahrul. Rupanya sobat Ngoh dan Sahrul merupakan guiede yang akan membawa kami ke pantai Batu Payung. Kami segera menggas motor.

Dalam hati saya mengagumi jalan beraspal menuju pantai Batu Payung. Bersih dan bergelombang. Dalam pengaguman, saya dan Apologi tertinggal jauh dari Sir dan Ngoh. Kami tidak tahu kemana arah selanjutnya. Saya berinisiatif menelpon sobat Sir. Setelah mendapat arahan kami segera mendapati Sir dan Ngoh tepat di Pantai Kuta. Ternyata untuk menuju ke pantai Batu Payung harus melewati pantai Kuta dan Tanjung An. Tanjung An merupakan tempat syuting film Dawai Asmara yang dibintangi Ridho dan ayahnya Rhoma Irama beberapa waktu lalu. Luar biasa pengunjungnya sangat banyak. Eksotis. Pasir pantai terhampar dan air laut sangat jernih. Ingin sekali saya menceburkan diri namun bukan Tanjung An tujuan saya. Saya pun berlalu menuju Batu Payung. Kami memarkir motor dan menyusuri bibir pantai berbatuan. Sangat melelahkan. Namun saya tak patah semangat. Akhirnya kami tiba. Istri saya segera menjepretkan kamera kea rah saya. Saya pun berpose dan begitu juga dengan istri saya. Lalu kami mendekatkan diri pada Batu Payung. Benar saja ternyata batu tersebut seperti paying. Saya, istri, Sir dan kekasihnya, Apologi dan Kekasihnya serta Ngoh dengan Sahrul bergantian berpose. Sungguh Batu Payung merupakan Kuasa Ilahi. Berdiri terpancang, gagah menjulang. Tidak percaya? Silahkan berkunjung sendiri.

1 Response to "Batu Payung, Bukti Kuasa Ilahi "

  1. NTB sebenarny sangat kaya akan potensi pariwisata, yang kalau diklola dengan baik, bisa jadi akan menjadi sumber PAD besar, namun sayang perhatian pada pengelolaan objek pariwisata terkesan masih setengah hati

    ReplyDelete

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef