Percakapan Jam Dua Pagi

Rumah Separuh – “Sudah sampai mana kawan Tur?” Tanya saya malam Sabtu minggu kemarin.


“Masih di kapal” jawab Tur agak samar-samar. Perkiraan saya angin laut sedang besar sehingga suaranya tidak jelas.

“Kalau sudah di PLN Taliwang jangan lupa hubungi saya. Saya takut ketiduran, terus lolos tidurnya sehingga bisa saja tidak menjemput kalian” sambung saya.

“Ok nanti saya bangunkan” ujar Tur seraya mematikan handphonenya.

Saya pun segera beranjak ke tempat tidur. Tidak berapa lama mata saya langsung terkatup, lelap dibuai mimpi. Tepat jam dua pagi Tur membangunkan saya.

“Sory ganggu tidur ente. Eh saya sudah di depan PLN, ayo jemput” pintanya. Saya segera bangun dengan mata masih terpejam. Langkah saya gontai. Mengambil kunci dan menghidupkan motor. Saya meluncur ke PLN. Setelah mendapati Tur, Jul dan Ijah di depan PLN, kami menuju rumah separuh. Ijah menaiki motor sementara saya, Jul dan Tur jalan kaki. Saya sangat senang dengan kedatangan teman-teman.

“Li jangan repot-repot ya,” kata Jul.

“Ah tenang aja kawan. Saya Cuma ingin kalian tidak kaget dengan keadaan rumah. Bila nanti ada yang tidak berkenan di hati, mohon maaf sebelumnya,” jelas saya.

“Wah masih banyak tanah kosong Din?” Tanya Tur setelah melihat banyaknya tanah kosong.

“Mana sekolah tempat ente mengajar Din?” Tanya Tur.

“Ini yang bercat hijau” tunjuk saya. Kami terus menyusuri jalan di pagi hari. Angin yang bertiup menusuk kulit. Tapi keriangan kami dengan banyolan khas Ro’yuna seakan cuaca dingin seperti air hangat. Sehangat hati kami setelah sekian bulan tidak bertemu. Kami bercanda sepanjang jalan. Tidak terasa kami sudah sampai di depan rumah separuh.

“Ini rumahmu Li?” ujar Jul. belum sempat saya menjawab Tur sudah siap-siap bertanya. Dan benar perkiraan saya.

“Luas juga Din, berapa are nih?” sambung Tur. Tiga are Tur.

“Berapa per-arenya?” Jul melanjutkan pertanyaannya.

“Rp 10 jt/are,” jawab saya.

“Lumayan mahal harganya Li”

“Ya begitulah. Tapi untungnya di depan jalan jadi kalau mau jual bisa lebih cepat,” jawab saya.

Lalu kami masuk ke kamar yang sudah disiapkan istri. Dalam hati saya sangat bersyukur mereka selamat sampai rumah dengan selamat sehat wal afiat. Semoga kalian betah dengan keadaan rumah kami yang hanya separuh. Percakapan jam dua pagi, kami tutup dengan suara dengkuran yang lelap hingga subuh tiba.

0 Response to "Percakapan Jam Dua Pagi"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef