Merajut Asa di Musim Begabah

Harapan Sekolah
Rumah Separuh - Kulitnya kusam. Hampir menyelimuti seluruh wajah manisnya. Rambutnya tergerai memanjang berwarna hitam kemerahan. Pakaiannya kumal tidak karuan. Kakinya kurus, tidak beralas kaki pula. Ia hanya bicara bila dengan keponakannya. Ia juga bercanda ria, meski sering terlihat wajahnya menyembunyikan sesuatu ketika di depannya lewat segerombol anak sebaya berangkat ke sekolah. Matanya akan terus memandangi gerombolan tersebut hingga hilang dari pandangannya.

“Ani …” panggilan sang kakak seakan mengganggu pemandangannya. Sebab, wajah kesalnya muncul seketika itu juga. Ia segera mendekati suara sang kakak.

“Araq ape?” tanyanya dalam dialek bahasa Sasak yang kental. Ani memang kelahiran Lombok yang kebetulan datang ke Taliwang untuk membantu ayah dan kakaknya begabah. Lumayan untuk membantu kelangsungan hidup. Sebab ayah dan kakaknya tidak memiliki penghasilan tetap. Sehingga ia pun harus putus sekolah dan merelakan masa kecilnya yang seharusnya sibuk dengan berbagai mata pelajaran, diisi membantu orang tua. Namun, asanya untuk melanjutkan pendidikan tingkat dasar terus ia jaga. Entah kapan mimpi itu terwujud. Walau pun umurnya akan jauh lebih tua dibanding teman sekelasnya kelak.

“Ayo bawa tas ini. Kita berangkat ke sawah” jawab sang kakak sembari menyodorkan tas berisi nasi dan lauk pauk untuk dimakan pada waktu istirahat di tengah begabah.

“Auq (Ya)” jawab Ani singkat. Ia pun menggamit tas yang diberikan sang kakak. Lalu berjalan beriringan bersama sang kakak hingga tempat tujuan. Terkadang bila sang kakak ada uang, Ani dan sang kakak akan menyewa jasa ojek. Sungguh perjuangan yang teramat perih. Namun ia harus melewati semua ini. Mudah-mudahan, Amaqnya mau menyekolahkannya lagi.

Saya pun sempat sumringah. Ketika melihat ayah dan kakaknya bergantian membawa satu dua karung gabah. Esoknya begitu lagi. Karung gabah tersebut menumpuk seperti bukit. Alhamdulillah mereka dapat banyak. Apalagi untuk seratus kilogramnya dihargai tiga ratus ribuan. Jumlah yang sangat lumayan. Siapa yang memberi uang sebanyak itu dalam sehari atau dua hari. Tentu kerja kerasnya tidak sia-sia. Selepas azan sholat magrib, Ani memandangi tumpukan karung gabah. Wajahnya berseri. Wajah-wajah ibu dan bapak guru, teman-teman sekelas tergambar jelas di pelupuk matanya.

1 Response to "Merajut Asa di Musim Begabah "

  1. maka bersukurlah bagi siapapun yang tidak pernah merasakan pahit dan kerasnya kehidupan seperti ani dan keluarganya, bekerja keras membanting tulang, hanya demi keberlansungan hidup keluarga. maka kerja dong, jangan minta melulu

    ReplyDelete

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef