Guru, digugu dan ditiru

Menjadi Guru Teladan
Rumah Separuh – Seorang guru di Jakarta beberapa waktu lalu membuat dunia pendidikan kebakaran jenggot. Akibat berita hebohnya, para orang tua mulai pesimis dengan pendidikan. Yang notabene harapan dan pencerahan bagi kemajuan bangsa. Betapa tidak, setelah aksinya mencabuli siswi sendiri, nasib guru seperti diujung tanduk. Rusak wajah-wajah guru yang harusnya digugu dan di ditiru. Padahal siswi tersebut merupakan peserta didik yang setiap hari diajar soal nilai-nilai luhur kehidupan. Budi pekerti sejati. Akhlakul karimah nan gung dan penuh makna. Namun sungguh sangat disayangkan dengan terjadinya persitiwa ini.

Menjadi guru yang digugu dan ditiru dewasa ini teramat sulit. Apalagi setiap tahun lulusan sarjana muda dari berbagai perguruan tinggi yang mengambil profesi sebagai guru sangat banyak. Menjadi guru tidak hanya bisa menyampaikan teori di depan murid. Tapi juga menjadi panutan bagi peserta didik. Itu artinya akhlak, tutur kata dan sikap seorang guru menjadi penentu utama keberhasilan proses pembelajaran. Memang sih saya juga belum sampai pada titik ini tapi mari kita beranjak bersama-sama. Disertai niat tulus dan ikhlas berupaya merubah keterpurukan ini menjadi jauh lebih baik. Sebab, ilmu saja tidak cukup menunjang keberhasilan pendidikan namun juga dibarengi dengan nilai-nilai moral yang dibingkai dalam indahnya pendidikan.

Dalam literature Islam, ada tiga orang tua yang harus dihormati. Pertama orang tua yang telah melahirkan. Termasuk orang tua dari istri atau suami (mertua). Kedua orang tua yang mengajarkan al-Qur’an (ilmu membaca al-Qur’an) dan ketiga orang tua yang mengajar di sekolah. Terkait dengan kasus asusila guru terhadap murid, sejatinya sebagai orang tua, mampu mengayomi anak didik dengan baik. Menjaganya dan memberikan bekal sebanyak mungkin. Kelak dimasa depan, ketika kita-para guru-telah wafat- mendapatkan aliran pahala segar tatkala ilmu yang sudah diberi kepada anak didik diamalkan secara turun menurun hingga akhir zaman. Sungguh ini merupakan tabungan akherat yang sangat baik. Begitu pula jika yang diajar adalah nilai-nilai keburukan, maka dosa-dosa yang dilakukan secara turun temurun akan kita dapat di alam akherat. Tentu hal ini tidak diinginkan semua guru. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi dengan maksimal. Merekalah anak-anak kita yang akan melanjutkan tongkat estafet negeri kita.

0 Response to "Guru, digugu dan ditiru "

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef