Saya Nomer Satu

Saya Nomer Satu - Kami masih istirahat di kamar. Dari dalam kamar kami mendengar suara derap lari seseorang. Kami mencoba melihat halaman rumah, tapi tidak seorang pun yang kami temukan. Baru saja kami tidak menghiraukannya tapi derap lari tersebut semakin dekat. Dan benar, Monik orangnya.

Mutiara-mutiara Rumah Separuh, setiap hari berlomba datang pertama. Tujuannya tidak lain adalah agar menjadi yang pertama dalam membaca Iqro. Bahkan pernah juga belum tiba waktu untuk mengaji, Monik datang jam dua siang. Padahal pengajian dimulai jam empat sore. Akhirnya saya menganjurkan agar menghafal surat-surat pendek. Dan instruksi itu dijalankan meski terkadang terputus-putus.

Tapi itulah mutiara-mutiara kami. Semangatnya patut diacungi empat jempol. Tidak jarang mereka saling berselisih paham hanya karena memperebutkan antrian mengaji. Untuk memperebutkan titel "saya nomer satu" menjadi kebiasaan menarik buat kami di rumah separuh.

0 Response to "Saya Nomer Satu"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef