Percayalah, Perkataan Orang Tua Banyak Benarnya

Nasihat Orang Tua
Percayalah, Perkataan Orang Tua Banyak Benarnya - Ketika saya tiba di Lombok, 2005 silam, saya dikuliyahkan di IAIN Mataram. Abang saya waktu itu yang menjadi wakil orang tua saya, meminta pendapat Fakultas apa yang akan saya pilih. Saya pun menjatuhkan pilihan di Fakultas DAkwah. Alasannya, di fakultas tersebut terdapat jurusan yang sudah lama saya idam-idamkan, yaitu jurusan Komunikasi Dakwah. Lebih tepatnya, jurnalistik.

Dahulu saat masih di Ciledug, Tangerang, saya dan teman-teman remaja mengadakan pelatihan Jurnalistik. Cukup banyak pelatihan yang kami adakan. Pesertanya kami ambil dari remaja masjid di sekitar Ciledug. Tujuannya, agar teman-teman dapat menelurkan ide-ide melalui paling tidak bulletin Jum’at. Alhamdulilllah tanggapan mereka sangat antusias. Kami di Komunitas Mutiara Salafiyah juga menerbitkan sejumlah buletin dakwah yang kami sebar di masjid-masjid.

Kebiasaan inilah yang kemudian merasuk deras dalam dada ketika girah menulis membumbung tinggi. Makanya kemudian saya memilih jurusan Jurnalistik untuk menyambung semangat saya yang sempat terputus. Namun sayang, nilai rata-rata SMA saya tidak mencukupi. Hanya 6,5. Sementara pihak kampus meminta minimal nilai rata-rata 7. Saya pun kecewa berat.

Saya memang tidak pernah bercita-cita menjadi pengajar. Meski pada akhirnya, abang saya memilihkan saya jurusan Diploma Dua (D2) Pendidikan Guru Agama Islam (PGPAI). 2007 lulus D2. Waktu itu saya masih tidak percaya dengan ungkapan perkataan orang tua banyak benarnya. Saya pun mengutarakan niat untuk melanjutkan S1 di Fakultas Dakwah, namun tidak mendapat persetujuan abang saya. Menurut beliau, “Ambil saja S1 PAI. Sudah ada dasar di PGPAI. Jadi nanti lebih matang ilmunya”.

Saya pun kembali kandas. S1 PAI saya ambil. 2010 baru wisuda. Selang beberapa bulan, saya mengikuti tes CPNS di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Cukup banyak tes yang harus saya lalui. Bermula dari tes administrasi, tes fisik berupa lari dengan jarak tempuh hamper dua kilometer. Lalu tes wawancara. Menunggu hasil tes wawancara, saya meminta pertimbangan abang. Terkait memilih tempat tes CPNS. Kebetulan saat itu saya juga ikut tes di Provinsi NTB. Saya bingung mana yang akan saya pilih. Abang langsung menjawab. “Pilih saja di Taliwang. Sudah banyak tes yang dilalui. Tinggal satu tes lagi yaitu tes tulis”. Saya pun mengikuti saran abang.

Hasilnya, pertengahan Desember 2010, saya lulus menjadi CPNS di Taliwang. Dari sini dapat saya ambil kesimpulan bahwa, petuah orang tua atau yang dituakan banyak yang benar. Dua kali saya meminta pendapat, keduanya membuahkan hasil memuaskan. Pertama jurusan kuliyah yang saya ambil dan memilih tempat tes CPNS. Luar Biasa kata-kata orang tua. Semoga Allah SWT, melancar dan memudahkan segala urusan abang dan juga orang tua tercinta. Amin. Maka dari itu, saya menghimbau teman-teman sebijak mungkin untuk menerima petuah orang tua. Jangan cepat mendebatnya meski kita memiliki alasan bagaimana pun ilmiyahnya.ternyata, perkataan orang tua banyak benarnya bukan perkataan bohong. Dapat anda buktika sendiri.

0 Response to "Percayalah, Perkataan Orang Tua Banyak Benarnya"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef