Titip Dari Belakang

http://rumahseparuh.blogspot.com/2013/03/titip-dari-belakang.html
Dari Belakang
Titip Dari Belakang - Penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru di beberapa sekolah/kampus sudah selesai. Jika kita sering melihat berita, tidak sedikit para orang tua kecewa dengan system peneriaan yang dilakukan pihak sekolah. Akhirnya demonstrasi pun ditempuh dengan harapan sekolah-sekolah mau membuka ruang baru.

Di sisi lain tidak sedikit para orang tua menempuh jalur “belakang”. Kalau ada kerabat di sekolah, tidak malu-malu untuk menitipkan anaknya agar bisa masuk. Jika tidak ada kerabat, bisa melalui sahabat yang kebetulan memiliki kerabat. Jika kerabat sahabat tidak ada, bisa melalui jalur rel kereta api. Meski mulus tapi tidak mudah lewat begitu saja. Banyak batu atau kerikil yang jika tidak dibuang bisa-bisa kereta api terjungkal keluar dari rel. Untuk melewati ini, perlu pengadaan oli (pulus) agar sampai tujuan.

Beberapa waktu lalu saudara jauh saya yang kebetulan kenal dengan salah seorang pejabat salah satu sekolah di Mataram, diminta untuk membantu anak kerabatnya yang ingin masuk SMA. Begitu juga kakak sepupu saya yang dengan statusnya sebagai guru besar suatu kampus Mataram, bisa saja memasukkan anak sahabatnya. Untungnya kakak sepupu dan saudara jauh saya tidak mau. Sehingga tidak sedikit dari sahabatnya gigit jari.

Titip Dari Belakang, inilah potret orang tua kita. Nyata dan bukan rekayasa. Hanya ingin masuk sekolah/kampus pavourite, segala cara dihalalkan. Padahal ini di lembaga pendidikan. Lembaga yang seharusnya mampu memberikan kesadaran tentang apakah sesuatu itu baik atau tidak. Lagi pula apa bedanya sekolah di pavourite atau tidak? Padahal menurut Gede Prama, salah seorang penulis buku yang sangat produktif, menuturkan pengalamannya ketika membaca sebuah artikel. Di dalam artikel tersebut diungkapkan, “Manusia hidupnya tidak diselamatkan oleh pendidikan tetapi keterampilan”.

Artinya, pendidikan tidak menjamin seseorang sukses atau tidak. Atau lewat jalan depan atau belakang. Bukan berarti saya mengecilkan obsesi Anda untuk mengeyam pendidikan. Maka dari itu tidak ada salahnya kita mengeyam pendidikan, siapa tahu berhasil.

Oh ya, usahakan jangan dibiasakan lewat dari belakang nanti anak cucu ikut-ikutan. Kalau sudah begini siapa mau disalahkan. Mari kita renungkan.

0 Response to "Titip Dari Belakang"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef