Nyanyian Kapal dari Kayangan


Nyanyian Kapal Dari Kayangan - Seorang bocah kurus berjalan mencari tempat ditengah-tengah penumpang kapal laut. Pakaiannya lusuh. Celana pendeknya seperti kain lap. Kotor sekali. Sandal jepitnya sudah menipis, menunggu untuk dibuang dan dicari pengganti. Ia mulai bersiap-siap. Lalu menarik nafas dalam-dalam. Satu dua tiga. “Asslamu’alaikum warahmatullahi wa barakatu”. Ia membuka aksinya dengan salam. “Maaf saya mengganggu perjalanan para penumpang. Maka dari itu saya mohon ijin untuk menyanyikan bebarapa lagu. Semoga dapat menghibur bapak dan ibu sekalian.” Ucapnya santai. Sedikitpun tak terlihat tegang.

Ia mulai memainkan alat musiknya. Yaitu sebuah kecrekan yang terbuat dari susunan tutup botol yang dipasang berjajar menjadi rangkaian alat musik seadanya. Dua buah lagu ia mainkan dengan ceria. Tanpa malu sedikitpun. Padahal banyak pasang mata menatapnya lekat-lekat. Tapi ia tak peduli. Ia tetap bernyanyi meski nadanya terkadang fals atau salah. Ia tetap mengecrek alat musiknya hingga selesai. Aku menikmatinya. Karena aku pikir tidak semua anak mampu bernyanyi dihadapan banyak orang. Hebat, pikirku kemudian.

Setelah selesai bernyanyi ia mulai menemui para penumpang. Menyodorkan kantong plastic, berharap mendapat uang receh. Ia menemuinya satu persatu. Di luar dek, ia menghitung uang hasil kerja kerasnya barusan. Wajahnya sumringah. Sepertinya hasil yang ia dapat lumayan. Makanya ia tersenyum-senyum sendirian.

Di luar dugaan, ketika saya keluar dari dek saya berdiri berdampingan dengan bocah kecil itu. Ia menikmati setiap hembusan angin sembari menatap hamparan air laut. Malam yang sejuk. Purnama menyinari wajah bocah kecil itu.

Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

“Hai, siapa namamu dik?”

“Zul, pak”

“Malam-malam begini kenapa masih dikapal? Apa tidak dicari orang tua nanti?”

“Tidak pak. Saya sudah biasa seperti ini. Bapak pasti tahu dimana saya”

“Kamu tidak sekolah?”

“Sebenarnya sekolah. Tapi berhenti. Nggak punya uang.”

“Menyanyi lebih mengasyikkan dan dapat uang,” ucapnya lagi.

“Kamu tidak ingin melanjutkan sekolah?”

“Mau sih, tapi kaki saya sudah berat berangkat ke sekolah. Lebih asyik begini aja.” Ucapnya tanpa menyesal.

“Ok dik, semoga kamu berhasil,” percakapan ini saya tutup. Sebab sebentar lagi kapal akan merapat di pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Nyanyian kapal dari Kayangan masih membekas dalam ingatan. Mudah-mudahan bisa bertemu kembali dengan Zul, sang penyanyi cilik.

0 Response to "Nyanyian Kapal dari Kayangan"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef