Jangan Bersedih Awan

Jangan Bersedih Awan - Rambutnya ikal. Wajahnya oval, berkulit putih bersih. Tingginya mungkin sekitar satu meter lebih sedikit. Bahasa inggrisnya cukup mumpuni. Kaca matanya tebal. Secara keseluruhan nilai mata pelajaran di sekolah tidak jelek-jelek amat. Hanya saja, sering kali terlambat masuk. Dan ini pula kenapa beberapa guru merasa tidak cukup sabar mengajarinya. Tapi ... namanya juga anak-anak. Walau pun salah, tetap ia membutuhkan perhatian. Ia juga mendapati dirinya terkena penyakit asma. Hingga suatu saat ayahnya tertimba musibah. Penyakitnya komplikasi. Saya sendiri tidak detail apa penyakitnya. Tapi menurut beberapa sumber memang begitu ceritanya. Sehingga memaksa Ia meminta izin ke Jakarta untuk menemani bapak di rumah sakit. “Katanya sudah koma”.
Dan musibah ini pun berkahir. Tat kala, saya mendapati berita bahwa bapaknya sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit, ia wafat. Saya benar-benar kaget. Mimik saya berhenti sembari berucap, “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un”. Sontak suasana kelas menjadi riuh sedih berselimut duka.
Kehilangan salah satu orang tua sejak dini memang suatu pukulan berat. Awan hanya anak kecil yang berusaha menjadi dewasa atas musibah yang sedang dihadapi. Maka hanya al-Fatihah yang dapat saya kirimkan untuk ayahmu. Semoga, amal ibadahnya diterima Allah swt dan yang ditinggalkan, menjadi lebih tegar dan sabar terhadap musibah ini. Amiiin

0 Response to "Jangan Bersedih Awan"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef