Etika Menegur Partner Kerja

Etika Menegur Partner Kerja - Dua orang sahabat saya Dirman dan Ucok, tiba-tiba menjadi berang bukan main. Pasalnya, tindakan mereka mendaftarkan diri menjadi PNS mendapat sambutan yang kurang hangat. Terutama Big Bosnya. Sebagai bos, Ia merasa kecolongan atas sikap kedua partner kerjanya. Apalagi banyak ilmu yang sudah diberikan. Khususnya Dirman.

Dirman merupakan partner kerja big bos yang mungkin saja sudah lebih tiga tahun dipimpin. Dirman dipoles menjadi guru yang berani bicara dan kreatif. Bahkan terakhir diberikan beasiswa. Namun karena kasus ini, akhirnya Dirman diminta mengembalikan beasiswa tersebut. Dirman pusing tujuh keliling. Terpaksa ia meminjam uang bokap untuk mengganti. Walau pun pada akhirnya dipinjamkan, Dirman tetap menyesalkan tindakan bosnya. Kenapa harus seperti ini? Apakah salah Ia mencari penghidupan yang lebih menjanjikan? Tentu tidak.

Parahnya, kenapa hal ini diungkap di depan khalayak. kenapa tidak mengedepankan etika menegur partner kerja. Sehingga, Dirman dan temannya, tidak merasa malu. Mereka hanya bisa terdiam, malu. Pasrah. Tapi dengan lulusnya sebagai PNS, mereka tidak menyesal sama sekali keluar dari sekolah. Good luck my friend. Semoga etika menegur partner kerja seperti ini tidak kita tiru di masa-masa yang akan datang. Pada saat kita menjadi atasan.  

0 Response to " Etika Menegur Partner Kerja"

Post a Comment

Silakan tuliskan komentar anda di bawah ini

wdcfawqafwef